Cari Blog Ini

Memuat...

Rabu, 14 Maret 2012

Gaya Pemimpin Beda Presiden, Beda Pola Komunikasi


   Keberhasilan seorang pemimpin, termasuk presiden, antara lain ditentukan oleh kepiawaiannya dalam berkomunikasi. Komunitas menjadi modal untuk mendapatkan dukungan atas berbagai kebijakannya. Menilik praktik dinegara lain, menarik sekali melihat keunikan komunikasi politik mantan Presiden 
George W Bush dan Presiden Barack Obama di Amerika Serikat.

George Bush membuka dan memilih salah satu ruang di Gedung Putih untuk melakukan komunikasi publik. Pada awal pemerintahannya, pidato Bush disiapkan secara mekanis oleh pembuat naskah pidato sehingga sering terdengar datar. Pidatonya menjadi lebih efektif ketika ia ikut serta dalam persiapan naskah dan meluangkan waktu untuk berlatih pidato.

Pernyataan Bush pasca-serangan 11 September 2001 yang terkesan dramatis-“I can hear you. The resof the world hears you, and the people who knocked these buildings down will hear  all of us soon!” ( saya dapat mendengar kalian. Seluruh dunia pun mendengar kalian, dan orang-orang yang meruntuhkan gedung-gedung ini akan mendengar dari kami sesegera mungkin!)”-mampu meningkatkan dukungan masyarakat Amerika Serikat terhadapnya hingga 90 persen (Greenstein, 2009).

Sementara itu, Obama terbukti mampu menempati dirinya dalam peta politik AS sebagai komunikator publik yang berbakat. Kekuatannya sebagaian merupakan talenta, sebagian berasal dari pesan yang disampaikan. Obama merupakan penulis utama dalam pidatonya. Para asistennya hanya membantu memolosnya. Survei Gallup menunjukkan 78 persen publik mendukung kebijakannya pascapemilu.

Presiden Indonesia

Pola komunikasi politik presiden dari masa kemasa tidak kalah menarik karena memiliki keunikan tersendiri (Tjipta Lesmana,2008). Soekarno terkenal dengan pidatonya yang memikat karena penuh dengan gagasan baru dan semangat. Repetisi kata ataupun anak kalimat kerap dilakukan untuk membakar semangat. Praktis belum ada presiden Indonesia selanjutnya yang memiliki kemampuan berpidato seperti Soekarno.

Lain Soekarno, lain pula dengan Soeharto. Presiden kedua ini lebih banyak menggunakan dalam bahasa simbol. Komunikasi politiknya cenderung tertib dan monolog. Pola komunikasi seperti ini dilakukan pula Megawati dan SBY. Megawati kerap terikat dengan naskah dan SBY berkomunikasi dengan bahasa tubuh dan pilihan kata-kata yang cukup hati-hati.

 Berbeda dengan saat berpidato, dalam kunjungan atau dialog dengan masyarakat secara langsung. Soeharto dan SBY selalu tampil dengan senyum dan santun, sementara Megawati sering sekali memilih diam, cenderung membiarkan para menteri yang berbicara langsung ke publik.

Pola yang agak berbeda dijalankan Bj Habibie dan Abdurahman Wahid (Gus Dur). Keduanya spntan dan cepat bereaksi. Kegemaran berdebat mampu menciptakan suasana dialog dalam komunikasi politik mereka. Namun, tidak ada satupun dari enam presiden Indonesia yang tidak elergi  terhadap kritikan. Perbedaan hanya terletak pada kadar penolakan masing-masing sert bentuk perlawanan terhadap kritik. Jika Soeharto menyikapi kritik sebagai ancaman stabilitas dan harus ditindak SBY cenderung memilih menggelar konfrensi pers.


SUMBER: Agustina, Susanti.2012. "Beda Presiden, Beda Pola Komunikasi". Dalam Koran KOMPAS (20 Februari) Hal 4.


Pendapat Saya yaitu:

Memang setiap pemimpin pasti selalu berbeda dari segi kepemimpinan, komunikasi, jam kerja dalam memimpin suatu Bangsa,  dan lain sebagainya. Namun yang satu ini cenderung sekali terhadap cara berkomunikasi sesosok pemimpin-pemimpin yang sering di kritik oleh seluruh pendengar.

Komunikasi itulah sangat penting untuk saling berinteraksi terhadap semua jajaran pemerintahan, massa, pers, maupun secara langsung kepada masyarakatnya. Pasti setiap manusia selalu mencoba memperbaiki kesalahan yang pernah dibicarakan di depan umum secara lansung.

Pemimpin yang baik saat komunikasi harus benar-benar tulus dalam berjanji-janji maupun dalam melakukan tindakan yang menyangkut Bangsa dan Negara ini. Sebab itu hanya ada harapan untuk membangkitkan semangat juang untuk Bangsa dan Negara ini.
Masih saja ada kritikan saat berdialog lansung kehadapan pers dan masyarakat. Yang menarik adalah salah satu mantan pemimpin yang senggan senyum saat berinteraksi langsung ke pers maupun masyarakat luas. Akan tetapi hal itu sangatlah tidak baik untuk sesosok pemimpin, sebab mengurangi sikap dan santun, maupun kewibawaannya ataupun kebijaksaan dalam bermimpin suatu Bangsa dan Negara.

Kita sebagai rakyat kecil biasa berharap untuk lebih baik dari pemimpin-pemimpin yang sudah dahulu menjabat sebagai pemimpin untuk pemimpin baru yang akan mendatang.
Kita bisa mencontoh dari sesosok suri tauladan kita semua, Nabi besar Muhammad SAW. yang benar-benar pemimpin yang paling-paling baik pada jamannya hinnga saat ini. Beliau tidak pernah mendapatkan kritikan yang buruk namun selalu mendapatkan yang baik-baik. Untuk itu kita kembalikan lagi kepada manusianya, memang manusia tidak luput dari kesalahan, Untuk itu kita benar-benar memperbaiki kesalahan- salahan yang pernah dilakukan. Dan belajar dari kesalahan untuk bisa menggubahnya menjadi kebaikan dihadapan ALLAH SWT. dan seluruh umatnya.
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar